Masalah Keuangan Rumah Tangga yang Kerap di Hadapi Keluarga Muda

Masalah keuangan rumah tangga. Di era sekarang ini, masyarakat Indonesa menganggap bahwa menikah mda bukanlah hal yang tabu lagi. Berbeda dengan zaman dulu yang sentimen dengan pernikahan dini. Konon menikah adalah perjalanan yang teramat panjang.

Sepanjang usia pernikahan, akan ada saja perselisihan yang terjadi.  Bagimana tidak, dua insan yang seharusnya masih dalam fase menikmati waktu bersama teman harus berhadapan dengan kenyataan yang berat dalam rumah tangga.

Masalah keuangan menjadi permasalahan krusial yang kerap melanda pasangan muda. Faktor penyebabnya tidak melulu perihal banyaknya kebutuhan dan butuh pemasukan yang lebih besar, namun pengelolaan yang tidak tepat bisa mendorong permasalahan tersebut terjadi.

Sejujurnya masih dapat memaklumi, sebab membutuhkan penyesuaian dengan pemikiran dan pola hidup yang berbeda dengan masa masih bujang atau gadis.

Masalah Keuangan Rumah Tangga Bagi Keluarga Muda

Supaya lebih jelasnya, simak beberapa masalah keuangan rumah tangga di usia muda. Berikut penjelasannya!

masalah keuangan rumah tangga

1. Buruknya Pengelolaan Keuangan

Usia muda biasanya masih suka hura-hura setiap kali memiliki sejumlah uang. Mengingat belum ada tanggungan yang harus mereka emban membuat mereka seolah berhak melakukan apa saja sesuai keinginan.

Sehingga ketika memutuskan menjalin keluarga muda, kebanyakan menjadi kaget dengan realita yang ada tidak seindah di negeri dogeng.

Kurangnya bekal mengelola keuangan menyebabkan masalah keuangan rumah tangga yang terkadang tak tertolong. Yang tadinya hanya memikirkan kebutuhan pribadi, kini harus mahir membagi pos-pos pengeluaran untuk keluarga kecilnya.

Dari sinilah masalah keuangan rumah tangga bermunculan. Padahal sebelum memutuskan berkeluarga, seseorang tidak hanya harus siap mental. Tapi siap dalam segala hal terutama masalah keuangan. Buruknya pengelolaan ini dapat menimbulkan dampak yang serius apabila tidak segera tertangani.

Jangan segan belajar kepada yang sudah berpengalaman, seperti Ibu, kakak atau saudara yang sudah merasakan asam garam mengelola keuangan. Hanya saja, kamu tidak boleh mengadopsinya mentah-mentah.

Filter satu per satu pembelajaran dari mereka, tambahkan referensi melalui browser, youtube atau media sosial. Banyak kok yang tidak segan-segan berbagi ilmu cara mengatur keuangan rumah tangga yang tepat.

2. Kebutuhan Prioritas yang Tidak Terpenuhi

Masih berhubungan dengan poin nomor satu, buruknya pengelolaan keuangan menimbulkan masalah keuangan rumah tangga. Penyusunan rencana belanja sangatlah perlu saat mengelola keuangan keluarga muda.

Sebaiknya lakukan prediksi lebih awal tentang berbagai kemungkinan yang dapat terjadi. Planningkan pengeluaran secara rinci, transparan dan membuat list kebutuhan prioritas pada piramida puncak.

Mula-mula hitung dulu jumlah pendapatan bulanan, kemudian sebutkan komponen kebutuhan satu per satu beserta rincian budget dari setiap kebutuhan yang hendak dibeli.

Pastikan semua kebutuhan tidak ada yang terlewatkan. Sekalipun tidak bisa dengan stock yang banyak, belanjakan saja sesuai kemampuan. Hindari membeli barang yang sedang tidak kita butuhkan.

Sangat tidak dianjurkan memaksakan diri karena bisa-bisa kebutuhan prioritas tidak terpenuhi.

3. Tidak jujur dengan Jumlah Penghasilan

Masalah keuangan rumah tangga keluarga muda menjadi pembicaraan menarik yang tak ada habisnya. Pada dasarnya yang namanya rumah tangga meskipun tergolong masih belum sampai tua, sedari awal seharusnya sudah bertekad bersikap terbuka terhadap pasangan.

Baca juga  Cara Mencari Modal Usaha Paling Mudah Bagi Pebisnis Pemula

Tidak hanya perihal kekurangan diri, kebiasaan yang sulit diterima namun mengenai jumlah penghasilan per bulan sudah harus memberitahukan kepada pasangan jauh sebelum ikrar janji suci. Sampai saat ini, masih belum dketahui dengan jelas mengapa masalah tidak jujur akan penghasilan masih kerap mencuat di permukaan.

Apakah sifat kikir bawaan, atau memang semua penghasilan tidak boleh dipegang oleh pasangan. Apabila masalah keuangan masih condong seperti saat melajang, tidak menutup kemungkinan akan terjadi masalah di waktu yang akan datang.

Hal ini penyebabnya adalah masing-masing pribadi merasa masih dominan dalam hal keuangan dan tidak ingin dibatasi. Polemik ini yang seharusnya bisa ditangani dengan kepala dingin. Seandainya terus tidak ada kejujuran, bisa jadi akan menimbulkan kecurigaan.

Pasangan akan bertanya-tanya kenapa tidak jujur, apakah dialokasikan untuk hal-hal lain atau justru mengacu kepada perselingkuhan. Cobalah memahaminya dengan bijak demi kebaikan keluarga muda Indonesia.

4. Dana Darurat Tidak Tersedia

Ada lagi polemik yang timbul dari masalah keuangan rumah tangga. Bukan tidak mungkin sewaktu-waktu mengalami masalah serius namun dana darurat tidak tersedia. Dana darurat adalah dana yang dengan sengaja disisihkan dari penghasilan agar dapat berguna dalam keadaan darurat.

Jika dana darurat tidak dialokasikan sejak awal, kemungkinan besar rumah tangga mengalami guncangan. Dalam pelaksanaannya tidak harus menyisihkan dalam jumlah besar. Konsisten mengeluarkan 50.000 rupiah per bulan akan sangat membantu keuangan rumah tangga.

Rencanakan sebaik mungkin dengan pasangan. Pastikan keduanya sepakat memiliki tabungan dana darurat.

5. Kesulitan Membeli Rumah

Merasa belum sanggup membeli rumah bisa saja keluarga muda merasakannya. Perkara ini menjadi masalah yang bisa menurunkan rasa percaya diri. Belum lagi tuntutan pasangan yang menginginkan lekas pindah dari rumah orang tua atau kontrakan.

Sementara harga hunian terasa mahal bagi kelas menengah. Bila memungkinkan, sisihkan 30 persen dari gaji supaya nantinya dapat membeli rumah type minimalis. Tidak perlu langsung memaksakan diri memiliki rumah yang besar.

Berhentilah merengek, lebih baik support pasangan kamu agar semakin gigih mengumpulkan cuan.

6. Biaya Sekolah Tidak Tercukupi

Masalah keuangan rumah tangga bisa menghampiri siapa saja tanpa pandang usia pernikahan. Namun, umumnya keluarga muda yang kerap diterpa masalah tak sedap. Misalnya biaya pendidikan anak yang sulit untuk terpenuhi. Hal ini karena tidak adanya planning yang mereka siapkan sebelum memulai rumah tangga.

Apalagi saat ini biaya pendidikan tidaklah murah, pembayaran uang pembangunan, SPP bulanan atau semesteran, uang jajan di sekolah, pembelian ATK dan sebagainya memerlukan perencanaan keuangan sedari awal.

Nah, ada tips yang bisa kalian coba tapi membutuhkan persetujuan dari kedua belah pihdak.

Sebagian besar memilih menunda satu atau dua tahun untuk memiliki momongan. Tujuannya agar dapat mempersiapkan sedikit dana selama awal pernikahan.

Hanya saja tips ini sulit untuk terealisasikan, mengingat kehadiran anak tentunya sangat dinantikan.

Sebaiknya, ketika awal menikah kalian sudah memiliki tabungan sejak dini. Apakah dengan ikut asuransi pendidikan, tabungan berjangka, tabungan pendidikan dan sebagainya.

7. Cenderung lebih konsumtif

Konon cinta itu buta, jika seseorang sudah jatuh cinta maka bisa hilang akal sehatnya. Begitulah yang terjadi dengan pasangan muda yang menikah hanya karena alasan saling mencintai. Mereka cenderung mengadopsi perilaku konsumtif.

Kesenangannya terdapat pada barang-barang yang harganya jauh lebih mahal agar bisa menyenangkan hati pasangan dan pastinya merasa dihargai.

Tindakan konsumtif ini dapat menyebabkan masalah keuangan nantinya. Bisa-bisa justru saling menyalahkan lantaran kebiasaan yang buruk dari pasangan.

Untuk mengantisipasinya,  pasangan harus menghindari pembelian barang-barang yang tidak perlu. Gunakan saja uang bulanan sesuai dengan kapasitasnya.

Baca juga  Cara Mengatur Keuangan Rumah Tangga Agar Efisien dan Efektif

8. Benturan Ego antar pasangan

Zaman sekarang ini terjadinya kesetaraan genre antara laki-laki dan perempuan. Termasuk dalam mencari nafkah. Baik laki-laki maupun perempuan sudah tidak ada lagi perbedaan. Bahkan banyak fakta di lapangan bahwa perempuan lebih banyak menghasilkan uang ketimbang laki-laki.

Yang demikian ini bisa menyakiti ego pasangan, terlebih bila sang suami tidak memiliki pekerjaan. Maka situasinya semakin sulit. Dalam kasus ini keduanya sulit untuk menyelamatkan pernikahan apabila kedua pasangan tidak siap untuk mengalah. Seharusnya masing-masing pasangan memberikan perlakuan yang baik.

Salah satu pihak harus melihat situasi dari perspektif yang jauh lebih besar. Bukan malah tersinggung dengan pendapatan istri yang besar. Alangkah lebih baiknya mensupport istri agar lebih giat lagi bekerjanya. Barangkali keuangan semakin membaik apabila keduanya bekerja.

Koordinasikan jika sudah memiliki buah hati. Jangan sampai tidak memberikan perhatian dan kasih sayang yang cukup.

9. Hutang yang Menumpuk, pemicu masalah keuangan rumah tangga

Keputusan yang buru-buru saat membutuhkan dana tambahan bisa berakibat fatal. Pasangan yang mengajukan kredit rumah atau kendaraan tanpa pemikiran yang panjang atau pertimbangan yang matang, bisa menjadi masalah keuangan rumah tangga yang sulit teratasi.

Ada baiknya mengambil kredit atau pinjaman hanya saat benar-benar membutuhkan. Selain itu, jika memang sangat membutuhkan sesuaikan dengan kesanggupan kalian untuk melunasinya. Kemudian, milikilah kemampuan dan mimpi yang realistis.

Pikir berkali-kali sebelum mengajukan. Hindari bersikap ceroboh dalam mengatur keuangan rumah tangga. Keadaan akan menjadi sulit apabila hutang sudah menumpuk.

10. Investasi yang tidak stabil

Kehidupan yang stabil menjadi impian bagi semua orang yang sudah hidup berumah tangga. Hari ini siapa yang ingin hidup susah. Apalagi biaya hidup yang semakin menjulang tinggi. Tentunya sejak memutuskan menikah sudah berpikir tentang masa depan yang panjang.

Investasi menjadi salah satu faktor utama yang perlu kalian perhatikan dengan seksama. Terutama jika sudah memiliki tanggungan. Investasi berperan penting di masa yang akan datang. Memang investasi tidak hanya berbentuk uang saja. Bisa berbentuk emas, jam atau saham.

Apabila salah memilih investasi, dunia rumah tangga bisa kacau balau. Karenanya pasangan wajib memiliki investasi dengan return yang menguntungkan ketika menjalankannya. Berhati-hatilah sebab resiko dari setiap investasi yang berbeda-beda.

Cari tau sebanyak mungkin seputar investasi yang kalian pilih. Pelajari seluk beluknya, perusahaan mana yang sudah memiliki harga saham tinggi dan sebagainya. Perhatikan pula rentang waktu jika bergelut di bidang saham.

Bila ingin aman, investasikan dalam bentuk emas karena harga jualnya tidak turun dan lebih cepat dalam pencairan ketika membutuhkan dana darurat.

11. Dana Travelling Terhambat

Ada saja masalah keuangan rumah tangga yang terjadi pada keluarga muda. Belum matangnya persiapan bisa menjadi pemicunya. Salah satu dampak yang terpampang nyata yakni terhambatnya dana travelling. Padahal travelling perlu kalian lakukan meskipun satu kali dalam sebulan.

Selain sebagai cara untuk merefresh diri, travelling bisa menjadikan suatu keluarga semakin harmonis dengan saling meluangkan waktu bersama.

Anggarkan dana travelling sebaik mungkin. Meskipun hanya mendatangi destinasi paling dekat dari rumah, sebaiknya bisa terealisasi setiap tahunnya.

12. Tuntutan biaya hidup Orang tua

Sejatinya seorang anak laki-laki tidak akan pernah lepas tanggung jawabnya untuk berbakti kepada orang tuanya. Hanya saja, pemimpin keluarga harus mengetahui seberapa banyak anggaran yang harus dikeluarkan untuk mereka. Tentunya tidak sebanyak saat masih lajang.

Seberapapun yang akan kamu berikan, kompromikan terlebih dahulu dengan istri agar tidak timbul masalah keuangan rumah tangga. Sang istri berkewajiban mengingatkan suami apabila anggaran yang dikeluarkan tidak sesuai.

Tidak baik jika karena bakti anak kepada orang tua, justru menjadi pemicu timbulnya masalah.

13. Sikap saling membandingkan

Media sosial menjadi curahan hati pengguna yang gemar menampilkan keseharian atau pencapaiannya. Postingan yang mereka bagikan semata-mata hanya untuk menyenangkan diri sendiri. Namun, beberapa oang yang melihatnya justru berpikiran sebaliknya.

Baca juga  Cara Mengatur Keuangan Bisnis atau Perusahaan Paling Baik dan Benar

Misalnya ada yang mendapatkan kado mewah dari pasangan, kemudian mempostingnya dengan caption yang romantis. Di sinilah masalah keuangan rumah tangga bermula. Yang tadinya sudah membuat detail pengelolaan bulanan dengan tepat, namun sikap saling membandingkan menjadi bumerang bagi keluarga muda.

Bermotif kecemburuan sehingga menjadikan pasangan ingin mendapatkan hal yang serupa. Suami mana yang sanggup dibanding-bandingkan dengan orang lain?

Mau tidak mau suami ikut membelikannya walaupun sambil beradu argumen dan sedikit selisih paham.

14. Tidak Mampu Membayar Biaya Pengobatan

Dalam kurun waktu tertentu, adakalanya manusia jatuh sakit. Entah itu karena kurang istirahat atau banyaknya pikiran yang bersarang dalam benak seseorang.

Menurut kalian, bila melihat pelayanan BPJS yang terkadang tidak sesuai, apakah menyiapkan biaya kesehatan perlu kamu lakukan?

Jawabannya sudah pasti amat sangat kamu perlukan. Biaya pengobatan melambung tinggi. Tidak bisa hanya mengandalkan BPJS saja.

Kalian juga harus memiliki biaya untuk kesehatan, baik itu untuk sakit ringan maupun sakit yang membutuhkan tindakan medis lebih lanjut.

15. Sulit Memenuhi Kebutuhan Anak

Keluarga muda masih awam untuk memiliki anak. Bukan tidak memperbolehkan, hanya saja minimnya dana yang kalian miliki bisa membuat keadaan menjadi sulit untuk memenuhi kebutuhan anak.

Membesarkan anak di era sekarang tidak bisa terbilang murah. Kehadiran anak berarti membutuhkan ruang tambahan sebagai kamar sang buah hati. Itu artinya harus ada renovasi yang membutuhkan dana.

Selain itu, banyak persiapan lain yang harus terpenuhi misalnya popok, susu formula, mainan anak, karpet anak dan lain-lain.

Setiap orang tua pasti akan mengupayakan bagaimanapun kebutuhan anak, hanya saja sulit memenuhinya apabila tidak memiliki dana yang cukup.

16. Skincare Terasa Mahal

Sering bukan mendengar keluh kesah perempuan ketika sudah menikah? Dari pada membeli skincare, lebih baik uangnya kalian gunakan membeli keperluan anak dan suami. Inilah fakta masalah keuangan rumah tangga yang terjadi bagi sebagian keluarga muda.

Dahulu saat masih muda hampir tidak pernah sekalipun tidak menggunakan skincare. Tampilannya modis dan wajahnya glowing. Berbeda saat menikah, tampilan cenderung ala kadarnya. Jangankan skincare, mengenakan liptick saja sudah jauh lebih baik.

Alangkah lebih baiknya suami memenuhi kebutuhan ini. Sediakan dana untuk mempercantik tampilan istri. Bukan hanya memenuhi kebutuhan pokok saja. Keberhasilan suami terlihat dari penampilan istrinya. Tentunya sebagai suami tidak ingin berselisih paham kepada istri bukan?

Masukkan skincare ke dalam list bulanan. Sebagai istri yang pengertian, pilih skincare dengan harga terjangkau agar tidak memberatkan keuangan rumah tangga.

17. Kehilangan Pekerjaan, penyebab masalah keuangan rumah tangga

Tidak bisa dipungkiri jika kehilangan pekerjaan dapat menyebabkan masalah keuangan rumah tangga. Kondisi tidak menyenangkan ini tidak seharusnya terjadi pada rumah tangga kalian.

Hal ini bisa saja terjadi jika kalian memiliki sejumlah hutang, kemudian terlalu sering meminta gajian sebelum tanggalnya. Atau terlalu sering melakukan cashbon kepada instansi tempat kalian bekerja. Hal ini dinilai tidak kooperatif karena membuat keuangan perusahaan menjadi tidak terstruktur.

Selain itu, kalian akan dinilai tidak profesional sebagai karyawan. Hindari hal-hal yang dapat membuat kalian kehilangan pekerjaan. Sebisa mungkin meminimalisir hutang agar tidak merugikan kehidupan rumah tangga.

Mencari pekerjaan tidak semudah membalikkan telapak tangan loh. Berpikir panjang sebelum mengambil sebuah tindakan demi kebaikan bersama.

Gambar Gravatar
Saya seorang content writer berpengalaman lebih dari 10 tahun.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *